Ketum Pertani: Perempuan Petani dan Ilusi Kesejahteraan

 


Jakarta - Selama perempuan petani tetap diperlakukan sebagai obyek program, kesejahteraan akan selalu menjadi ilusi kebijakan.

Perempuan petani Indonesia berperan ganda. Bekerja di sawah, mengurus rumah, serta menerima bantuan dari pemerintah. Jelas ini sangat kontras dengan label ”penerima program”. 

Keadaan yang sama tetap berlanjut: secara ekonomi mereka masih bergantung pada suami dan keluarga, serta tidak pernah memperoleh upah yang seimbang tatkala menyelesaikan pekerjaan.

Peran sentral perempuan petani dalam produksi dan ketahanan pangan sangat vital. Mereka terlibat dalam seluruh rantai produksi, mulai dari persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, hingga pascapanen dan pemasaran, sekaligus pengelola keuangan rumah tangga dan penjaga kualitas gizi keluarga. 

Lebih dari itu, perempuan petani menjalankan peran reproduktif melalui kehamilan dan menyusui, serta pendidik pertama bagi anak-anak.

 Dengan beban kerja berlapis: produksi-reproduksi-sosial, peran mereka masih kurang diapresiasi, bahkan tidak tercatat dalam indikator kesejahteraan. 

Semakin ironis, akses terhadap sumber daya, seperti lahan dan modal, masih terbatas. Padahal, kontribusi mereka krusial untuk pembangunan pertanian pangan yang berkelanjutan, baik secara sosial, ekonomi, maupun lingkungan.


Penulis:

Dian Novita Susanto, Ketu Umum Perempuan Tani HKTI (Pertani) - Opini


Source:

Selengkapnya baca: kompas.id



Post a Comment

0 Comments